Reminiscing about Njiw's Blog

 

It's been almost a decade since I checked in, but now I found you dead..
Mau submit blog lama untuk tugas DCT - Website UICI, ternyata blog nya sudah tidak bisa digunakan. 

Seiring dengan makin berkembangnya media sosial seperti Instagram, Facebook, TikTok, dan lainnya, pilihan entertainment kini makin bervariasi dan mudah diakses. Untuk para content creator pun beragamnya pilihan wadah untuk berekspresi membuat para makhluk kreatif ini bebas memilih primary social media mereka.  Primary social media (totally my words, it's not a scientific writing after all) bisa diartikan sebagai saluran utama yang dijadikan sumber monetisasi konten mereka.  Sebagai contoh, Matthew Patrick alias MatPat mempunyai banyak media sosial, namun primary-nya adalah di YouTube melalui channel Game Theory, Film Theory, Food Theory, dan yang terbaru Style Theory.  Sedangkan jejaring media sosial lainnya dimanfaatkan oleh MatPat sebagai media untuk mempromosikan konten YouTube-nya dan berinteraksi dengan para fans.  Ada juga TikTok content creator yang kemudian memanfaatkan YouTube untuk upload kompilasi dan sebagainya. Namun dari banyaknya media yang bisa dipilih untuk mengekspresikan diri, coba kita lihat berapa banyak yang primary media-nya adalah blog? 

Bloggers, where are you?
Lantas kemana perginya para blogger? Membuat post di blog/website menurut author memang terkesan lebih memakan waktu ketimbang opsi situs lain yang menawarkan opsi yang sama seperti Twitter.  Di Twitter (I guess now they're called X), ketika ingin menulis kita bisa langsung mengetik apa yang ingin kita tuangkan. Batasan karakter yang hanya 280 karakter (untuk kaum yang tidak terchecklist, 25.000 untuk yang verified) bukan menjadi masalah, pasalnya Twitter menawarkan fitur Thread bagi penggunanya.

Thread di Twitter

Thread membuat postingan yang ditulis terlihat lebih mudah dibaca. Tidak seperti situs blog (seperti Wordpress dan Blogspot) yang potingannya terlihat seperti tulisan berita, thread dibuat seperti tweet biasa yang dirantaikan secara berurutan. Jadi para pembaca yang tadinya terbiasa membaca konten yang panjang mulai bergeser ke tulisan yang lebih simple dan padat. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menjadi Guru Hebat di Zaman Now